Terakhir diperbarui: 2026-04-17
Bah, ngeri kali lah kalau kita tengok timeline Instagram atau TikTok sekarang ini, ya kan? Isinya kalau nggak pamer mobil keluaran terbaru, ya pamer makan di restoran mewah yang harga steak-nya saja sudah seharga cicilan motor. Semua orang seolah berlomba-lomba ingin dilabeli "Sultan" atau "Crazy Rich". Tapi pertanyaannya, Lae, itu harta betulan atau cuma properti pinjaman buat konten doang?
Jujur sajalah kita, banyak orang sekarang lebih takut dibilang miskin daripada betul-betul jatuh miskin. Istilah kerennya sekarang adalah flexing. Fenomena pamer harta ini nyatanya menjadi salah satu kebiasaan keuangan buruk Gen Z yang sulit dihilangkan. Di balik foto estetik itu, siapa yang tahu kalau besoknya dia pusing tujuh keliling dikejar debt collector karena tagihan paylater sudah menumpuk setinggi Gunung Sinabung. Capek kali pun kalau hidup cuma buat nyenangin mata orang lain!
Gaya Mewah Tapi Sewaan: Realita Pahit di Balik Layar
Kalian tau nggak, Ito? Sekarang ini banyak bermunculan jasa sewa jet pribadi yang fungsinya cuma buat foto-foto doang. Pesawatnya sama sekali nggak terbang, cuma parkir diam di hanggar, terus orang-orang rela antre bayar mahal buat gaya-gayaan di dalam kabinnya. Biar apa? Biar dapat validasi dan di-like banyak orang. Bah, apa nggak pening kepala nengoknya?
Bukan cuma jet pribadi, mobil mewah macam Rubicon atau Alphard pun banyak yang disewa harian cuma demi bikin konten video transisi "pagi ke malam". Pas di depan kamera gayanya sudah macam bos besar, tapi pas selesai syuting balikin mobilnya naik ojek online. Ingatlah kawan, gaji besar tidak menjamin kaya, apalagi kalau hartanya sekadar sewaan belaka. Lucu kali pun dunia maya ini, kan?
Jangan pernah membandingkan kehidupan nyata kau yang "biasa-biasa" saja dengan kehidupan orang lain di media sosial yang sudah dipoles sedemikian rupa. Kebanyakan yang kau lihat itu cuma highlight reel (momen terbaik), bukan kenyataan yang sebenarnya. Gengsi setinggi langit nggak akan bikin kau kenyang, Lae!
Alasan Psikologis Kenapa Orang Hobi Flexing dan Pamer Palsu
Sebenarnya fenomena ini berakar pada masalah psikologis, bukan semata-mata soal uang. Banyak orang merasa harga diri dan status sosialnya naik kasta kalau dipuji oleh followers. Mereka haus akan pengakuan. Kalau dibilang kaya raya, rasanya macam sudah jadi manusia paling hebat sedunia. Padahal, old money atau orang yang betul-betul kaya justru biasanya tampil lebih sederhana dan diam. Mereka nggak merasa perlu membuktikan isi ATM-nya ke siapa pun.
Masalah terbesarnya, gaya hidup palsu ini sangat menular, persis macam penyakit. Tengok kawan kantor pamer tas branded baru, kita pun panas hati ingin ikut beli, padahal saldo di rekening cuma sisa buat beli token listrik. Nongkrong sana-sini demi instastory berujung pada pengeluaran receh bikin miskin tanpa kita sadari. Akhirnya apa? Pinjaman online (Pinjol) jadi pelarian utama. Demi konten sesaat yang umurnya cuma 24 jam, masa depan finansial jadi berantakan.
Tanda-Tanda Orang Lagi "Akting" Kaya
Coba perhatikan baik-baik lingkungan sekitarmu, biasanya orang yang memaksakan diri pura-pura kaya memiliki pola yang sama:
- Fotonya selalu di tempat mewah dan kekinian, tapi bajunya itu-itu saja atau terlihat sangat tidak nyaman saat dipakai.
- Sering banget posting quotes soal kerja keras dan kesuksesan, tapi nggak jelas apa usaha atau pekerjaannya.
- Kalau diajak kumpul di tempat makan sederhana, alasannya banyak kali, padahal aslinya takut ketahuan realita dompetnya.
- Sangat defensif jika diajak ngobrol soal investasi jangka panjang, dan tagihan kartu kreditnya selalu jadi rahasia negara.
Mending Sederhana Tapi Tenang Daripada Mewah Banyak Hutang
Jadi begini kawan, hidup itu pantang dipaksakan kali. Kalau memang mampunya makan di warteg, ya makan di warteg aja. Nggak usah malu atau merasa gagal. Rasa ayam gulai di warteg pun nikmatnya nggak kalah jauh sama steak daging wagyu kalau kita makannya pas lagi lapar-laparnya tanpa beban pikiran.
Kekayaan yang sejati itu bukan diukur dari seberapa mewah barang yang kau tunjukkan di layar HP, melainkan dari seberapa nyenyak tidurmu di malam hari tanpa memikirkan tagihan yang jatuh tempo esok pagi. Sangat penting bagi kita untuk mulai mempelajari panduan lengkap keuangan pribadi agar tidak tersesat. Olo, lebih baik kita menabung pelan-pelan, beli aset riil yang menguntungkan, daripada membeli barang mewah cuma buat pamer tapi besoknya bingung mau makan pakai apa.
Sudahlah, mulai detik ini berhenti iri melihat postingan orang lain. Fokus saja memperbaiki kondisi finansial diri sendiri. Kalau memang mau kaya secara finansial, ya kerja keras dan cerdas, bukan "akting" keras. Mauliate sudah mau membaca curhatan singkat ini, semoga kita semua senantiasa dijauhkan dari penyakit gengsi dan gaya hidup yang nggak ada habisnya ini.
Tentang Penulis
Admin Abdi Karo adalah seorang pengamat fenomena sosial dan penikmat literasi keuangan yang menetap di Medan. Suka ngopi santai sambil merhatiin tingkah laku orang di medsos yang makin hari makin aneh-aneh aja. Prinsip hidupnya simpel: "Biar gaya kaleng-kaleng, yang penting dompet nggak kosong melompong dan masa depan aman."
Ingin memahami cara mengelola cash flow dan membangun investasi dengan lebih terarah? Kunjungi blog keuangan pribadi Indonesia sebagai referensi yang membahas strategi finansial secara praktis dan realistis.
Jika kamu ingin terus mendapatkan insight keuangan terbaru, jangan lewatkan update dari kami. Follow blog ini sekarang dan mulai bangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.